Kiat Mendampingi Anak Beajar
Parenting

Kiat Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Kiat Mendampingi Anak Belajar di Rumah. Kejadian ini belum lama terjadi. Mungkin baru seminggu yang lalu (dari tulisan ini dibuat). Sebagian besar dari kita yang telah memiliki anak sekolah mungkin harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh. pembelajaran ini dilakukan secara online, bisa lewat pesan Whatsaap, atau Zoom.

Di Sekolah anakku, saat ini kelas 4 SD, cukup menggunakan whatsaap untuk berkomunikasi. Tugas yang diberikan hanya dikirim via video sederhana ataupun dalam bentuk file PDF. Hanya saja setiap hari pasti ada tugas yang harus diselesaikan. Apalagi matematika, tugasnya bejibun. Nggak cukup untuk diselesaikan dalam waktu 1 jam.

Mendampingi Anak, Tugas yang Menguras Kesabaran

Nah hari itu, PR matematika sekitar 20 soal. Sebelum mengerjakan, tentunya saya harus menjelaskan kepada anak bagaimana cara penyelesaiannya. Dari ba’da Magrib, di sela shalat isya dan makan malam, si bungsu sudah berkutat menyelesaikan soal. Tetapi 1 soal ternyata butuh waktu sekita 20 menit. Hari semakin malam. Kepala saya rasanya mau pecah, emosipun ikut naik.

Malam itu saya menjadi “setan” dengan tanduk merah menyala. Saya begitu emosi menjelaskan kepada si bungsu langkah demi langkah hinggga jawaban ditemukan. Bahkan si bungsu meneteskan airmata dalam diam. Malam itu, soal matematika sejumlah 20 soal selesai hingga hampir tengah malam. Lelah jiwa raga rasanya.

Percakapan Disuatu Pagi

Keesokan harinya, saat saya bersantai berdua dengan si bungsu dia berkata,”Ummi, kalau ajarin adik tuh jangan marah-marah!” Adik nggak bisa ngerti kalau umi ngajarinya marah-marah. Adik sebenarnya pengin marah. Tapi adik tahan.”

Hati saya serasa seperti dihantam palu mendengarnya. Air mata saya menetes perlahan. Langsung saya peluk, saya cium kedua pipinya dan mengusap rambutnya sambil terus berkata “Maafkan ummi ya, Dik.” Hingga setelah beberapa menit kemudian saya lepaskan pelukannya. Dia berkata,”Iya,Ummi. Adik maafin ummi.”

Kejadian itu benar-benar telah membuka mata saya, sekaligus membuat saya terpukul. Betapa saya bukan seorang ibu yang baik. Saya menangis. Hingga hari-hari selanjutnya, saya benar-benar dengan penuh kesabaran dan kasih sayang mengajarkan kepadanya menyelesaikan soal-soal tugas. Dan ternyata memang dia sangat cepat sekali menangkap apa yang saya sampaikan.

Kiat Mendampingi Anak Belajar
Kiat Mendampingi Anak Belajar

Kiat Mendampingi Anak Belajar

1. Siapkan Stok Kesabaran Tak Terbatas

Rasa tertekan karena tuntutan kita kepada anak agar mudah mengerti, justru membuat otak buntu. Karen bentakan atau teriakan kita justru akan membuat neuron di otak mati. Itulah mengapa sebagian besar orang atau anak, jika dibentak justru tidak bisa berfikir dengan baik.

2. Anak Butuh Rasa Nyaman

Karena merasa nyaman, anak akan merasa bahagia dan tidak terancam. Hal ini akan berpengaruh dengan peredaran darah ditubuhnya yang semakin lancar.

3. Jika Mampu, Lengkapi dengan Alat Belajar yang Lain

Mungkin jika mendengar kata-kata kita saja, anak masih belum maksimal memahami. Jika mungkin, sediakan alat bantu belajar atau peraga atau pembanding yang membuat anak semakin mudah mengerti karena melihat contohnya secara langsung.

4. Pahami Pola Belajar Anak

Ada anak jenis Visual, Auditori, kinestestik. Ketiga pola tersebut memiliki gaya tersendiri. Seperti contoh, gaya visual, anak akan lebih mudah memahami pelajaran dengan visualisasai. Cara penyampaian dengan slide, gambar, mimik dan gerakan guru, akan mudah tersimpan di dalam memori otak mereka. Untuk gaya Auditori, anak akan lebih suka mendengarkan. Sedangkan gaya kinestetik, anak lebih aktif bergerak dan bermain saat belajar.

5. Doa

Mulailah belajar dengan doa. Sebagai orangtua kita juga harus mendoakan secara khusus agar anak-anak diberikan kemudahan pemahaman. Sehingga hasil belajar nanti membawa berkah di dalam kehidupannya.

Nah, orang tua! Kita harus menyadari, bahwa sebenarnya pun kita dulu saat seusianya juga belum paham saat pertama kali mendapatkan sebuah pelajaran. Kita mungkin juga perlu sekali dua kali latihan dan penjelasan baru mengerti akan soal yang diberikan. Intinya, sebagai orangtua kita hanya menang dilahirkan lebih awal. Maka tempatkan diri kita sebagaimana mereka saat ini yang sedang berproses memahami. InsyaAllah kita akan selalu sabar mendampingi proses belajar mengajar ini. (end)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *